Senin, 25 Juli 2016

Catatan Untuk Awan PART 1



Kringg kriingg kriiingggg !!!


Di pagi itu aku terbangun, rupanya jam milikku telah menunjukkan tepat pukul 5 pagi. Sambil menghela nafas dan perlahan memulihkan kesadaranku, aku berusaha berdiri dan sedikit berolahraga di pagi itu agar terasa lebih bugar. Lalu aku duduk terdiam, beristirahat sejenak sambil terdiam berfikir apa yang akan aku lakukan di pagi itu.



“Duhh rupanya sudah subuh. Ngapain ya? Hmm mending mandi dulu biar segar.” ucapku di dalam hati.

Lalu aku segera membereskan tempat tidurku, dan mulai melangkah mencari handuk. Suara
langkah kakiku perlahan-lahan mendobrak keheningan ruangan di pagi buta tersebut. Aku langkahkah kaki ku menuju tempat menyimpan handuk,  setelah meraih handuk aku melewati meja berantakan yang bercampur kenangan. Tiba-tiba
aku tersenyum dan terdiam.

“Kenangan ya?” ucapku perlahan sambil sedikit tersenyum.

“Masa bodo ah mending mandi duluu” teriakku sambil tertawa.

Pagi itu memang sedikit berbeda, pagi itu merupakan pagi yang spesial bagiku. Pagi dimana suara ayam sudah terdengar bising, matahari belum menampakkan kilaunya, udara segar yang belum tercampuri polusi, dan angin yang berhembus melintas seketika merupakan hiasan indah di hari yang spesial tersebut. Setelah beberapa menit mandi, akhirnya akupun keluar dari kamar mandi dan mengganti bajunya dengan penuh semangat.

“Sembahyang dulu, setelah itu .... Waduh, kamar yang berantakan. Hmm sambil nunggu nanti pagi masih ada waktu buat beres-beres, yasudah beres-beres dulu aja sebentar”
Sambil berfikir harus memulai darimana, aku berusaha mengambil masker dan sarung tangan yang aku simpan di dalam lemari dan ternyata lemariku sungguh berantakan, menambah pekerjaan beres-beresku di pagi tersebut.


“Lemari yang berantakan. Baiklah sepertinya memulai dengan membereskan lemari dan melipat baju dulu. Yosh semangattttt !”  ucapku dengan penuh semangat.

Satu per satu baju kulipat dengan penuh hati-hati, maksudnya agar rapi dan tidak berantakan lagi. Mulai dari baju tidur, baju main, celana pendek, celana panjang, sarung, baju taqwa dan rupanyaa.... Baju seragam SMA ku yang sobek. Aku terdiam memperhatikan baju seragam lusuh yang sobek di bagian kirinya, baju tersebut  mengingatkanku. Akupun tertawa sambil mengambil gantungan baju dan menggantung baju tersebut di tembok kamar.




“Hahahaa baju ini disini rupanya, duh sepertinya sudah lama aku tidak memakai baju ini, memang sobek sih tapi tak apalah aku gantung saja di kamar. Hmmm mungkin aku gantung di sebelah sini saja ya ? Hahaha duh ini baju meskipun udah ga kepake tapi baju ini mempunyai kenangan.”

Lagi-lagi kata kenangan yang keluar pada saat itu. Akupun tertawa kecil dan segera menyelesaikan membereskan baju-bajuku dan memasukannya ke lemariku.Setelah selesai membereskan lemari, aku memakai masker dan sarung tanagn yang tadi aku ambil dan segera membereskan apapun yang berantakan di kamar kontrakanku tersebut.

“Oke karpet ini kita lipat, terus kita sapu dan pel ruang tengah ini. Tapi sebelum itu kita kembalikan ke tempatnya dulu tasku ini. Mungkin di gantung di kamar juga ya ? Tapi tas ini berat juga , ah mending di kosongin dulu. Kira-kira isinya apa aja yaa ? Hmm buku-buku, kemeja levis, tempat pensil, air minum, loh bentar, di saku ini apa ya ? Kertas ? Kertas ini kan... surat cinta ? Hahaha jadi teringat juga aku pernah mengirim surat cinta meski ujungnyaaa.... Ah sudahlah aku simpan saja, lebih baik aku cepat atau aku bakal kesiangan” ucapku penuh semangat.



 Akupun bergegas membersihkan dan mengepel Ruang tengah tersebut. Setelah selesai akupun mulai masuk ke kamar dan pikirku pun aku harus membereskan kamar dan tentunya merapikan meja yang berantakan itu.


“Padahal belum lama tapi sudah berantakan gini, yosh aku bereskan dulu barang-barang serba ada ini. Hmm loh kertas ini kan seharusnya disimpan di.........”

Tanganku seketika tak bergerak ketika memegang tumpukan kertas, akupun membeku, nafasku berhenti, namun bibirku sedikit tersenyum, karena itu adalah kumpulan foto kenanganku bercampur piagam-piagamku. Akupun terdiam sejenak, lalu aku menyimpan foto tersebut di meja, dan piagamku aku sobek sekecil mungkil.

"Ah sudah ah fokus beres-beres, biar ga telat" dan aku pun melanjutkan membereskan meja tersebut hingga beres. Akupun memisahkan barang yang akan kupakai dan barang yang sebaiknya aku simpan.

Tak lama kemudian, saat aku melihat jam aku sungguh kaget dan langsung mengganti baju dengan terburu-buru. 

"Masak buat sarapan ga akan keburu nih, yaudah beli roti aja di jalan deh." lalu aku pun mengambil tas dan langsung menuju pintu keluar kontrakannya tersebut. Aku pun mengunci pintu tersebut dari luar. dan sambil tersenyum aku pun berangkat.

Bersambung ..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar